Penerapan Sistem Produksi Bersih Dan Perencanaan Ipal Pada Industri Tahu Sragen Jawa Tengah

  • Rizki Dwi Martia Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Rois Fatoni Universitas Muhammadiyah Surakarta
Keywords: Industri tahu;, limbah cair;, biofilter aerobik;

Abstract

Tahu merupakan salah satu jenis makanan yang terbuat dari bahan baku kedelai. Di Indonesia, terdapat 84.000 unit industri tahu dengan kapasitas produski mencapai lebih dari 2.560.000 ton/tahun. Proses produksi tahu cukup sederhana dan mudah, yakni diawali dengan pemilihan kedelai, pencucian kedelai, perendaman kedelai, penggilingan kedelai, penyaringan whey, pemasakan whey, pencetakan tahu, pemotongan tahu, dan pemasaran tahu. Serangkaian proses produksi tahu tersebut menghasilkan limbah cair yang dibuang ke lingkungan sekitar 20.000.000 m3/tahun. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan alternatif penanganan limbah cair di industri tahu khususnya daerah Sragen, Jawa Tengah. Tahapan penelitian ini diawali dengan mewawancarai pemilik industry tahu, mengidentifikasi masalah lingkungan di sekitar industri tahu, mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian, dan melakukan pengolahan data yang telah dikumpulkan. Hasil analisis laboratorium DLH Sukoharjo menunjukkan limbah cair tahu bahwa kandungan BOD sebesar 9372 mg/L, kandungan COD sebesar 25768 mg/L, dan TSS sebesar 925 mg/L. Jika dibandingkan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah, standar kadar keluaran limbah cair industri tahu di daerah Sragen masih memiliki kandungan BOD, COD, dan TSS yang melebihi standar baku mutu, yakni secara berurut sebesar 150 mg/L, 300 mg/L, dan 200 mg/L. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh rancangan perhitungan instalasi pengolahan limbah yang disarankan ialah bak pengendapan awal, bak biofilter aerob, dan bak pengendapan akhir. Masing-masing memiliki dimensi sebesar 0,275 m3, 0,78 m3, dan 0,275 m3. Bak pengendapan awal dan bak pengendapan akhir, masing-masing memiliki efisiensi pengurangan zat organik sebesar 40% sampai dengan 70%. Sedangkan bak biofilter aerob memiliki efisiensi pengurangan zat organik sebesar 65%. Perancangan instalasi pengolahan limbah cair industri tahu ini, didapatkan nilai penurunan kandungan BOD, kandungan COD, dan kandungan TSS sebesar 98,406 mg/L, 270. 564 mg/L, dan 4,856 mg/L.

Author Biographies

Rizki Dwi Martia, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Teknik Kimia/Teknik

Rois Fatoni, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Teknik Kimia/Teknik

References

[1] Yudhistira B, Andriani M, Utami R. Karakterisasi: Limbah Cair Industri Tahu Dengan Koagulan Yang Berbeda (Asam Asetat Dan Kalsium Sulfat). Caraka Tani J Sustain Agric. 2016;31(2):137–45.

[2] Nanda L. Pembuatan tahu dari kacang kedelai dengan menggunakan bahan penggumpal ie kuloh sira. J Reaksi (Journal Sci Technol. 2016;14(01):37–42.

[3] Faisal M, Gani A, Maulana F, Daimon H. Treatment and Utilization of industrial Tofu Waste in Indonesia. Asian J Chem. 2016;28(3):501–7.

[4] Romansyah E, Muliatiningsih, Putri DS, Alawiyah A. Pengaruh pemberian daun bambu dan arang bambu pada pengelolaan limbah cair tahu. J Agrotek. 2018;5(2):79–86.

[5] Pradana TD, Suharno, Apriansyah. Pengolahan Limbah Cair Tahu Untuk Menurunkan Kadar TSS dan BOD. J Vokasi Kesehat. 2018;4(2):56–62.

[6] Wickramasinghe A. Gender and health issues in the biomass energy cycle : impediments to sustainable development. Energy Sustain Dev [Internet]. 2003;7(3):51–61. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/S0973-0826(08)60365-8

[7] Rahayu SS, Purwanto, Budiyono. Pengelolaan Lingkungan Industri Kecil Tahu Dengan Menerapkan Produksi Bersih Dalam Upaya Efisiensi Air Dan Energi. In: Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. 2016. p. 956–62.

[8] Faruq M, Lindu M, Yanidar R, Astuti AD. Efisiensi Penyisihan Bod Dan Cod Dalam Pengolahan Air Limbah Kantin Kombinasi Biofilter Aerobik Dan Subsurface Flow Constructed Wetland Multilayers Filtration Dengan Tanaman Akar Wangi Di SMA Negeri 78 , Jakarta Barat. In: Seminar Nasional Cendekiawan 4. Jakarta; 2018. p. 443–8.

[9] Said NI, Ruliasih. Tinjauan Aspek Teknis Pemilihan Media Biofilter Untuk. J Air Indones. 2005;1(3):272–81.

[10] Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah.

[11] Ariyanti M, Purwanto P, Suherman S. Analisis Penerapan Produksi Bersih Menuju Industri Nata De Coco Ramah Lingkungan. J Ris Teknol Pencegah Pencemaran Ind. 2014;5(2):45–50.

[12] Zulmi A, Meldayanoor, Lestari E. Analisis Kelayakan Penerapan Produksi Bersih pada Industri Tahu UD. Sugih Waras Desa Atu-atu Kecamatan Pelaihari. Teknol Agro-industri. 2018;5(1):1–9.

[13] Fatoni R, Septiani T, Mikasasari RP. Kajian Tekno-Ekonomis Pabrik Tahu Di Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. In: The 3rd University Research Colloquium. Kudus; 2016. p. 22–8.

[14] Bintang YK, Chandrasasi D, Haribowo R. Studi Efektifitas Dan Kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah ( Ipal ) Pada Peternakan Sapi Skala Rumah Tangga. J Tek Pengair. 2009;10(1):51–8.

[15] Metclaf, Eddy. Wastewater Engineering Treatment and Reuse. Tchobanoglous G, Burton FL, Stensel HD, editors. New York: McGraw-Hill; 2003. 1819 pages.

[16] Pd-T-04-2005-C. Tata cara perencanaan dan pemasangan tangki biofilter pengolahan air limbah rumah tangga dengan tangki biofilter. 2006;1–17.
Published
2020-05-14