DEKONSTRUKSI CITRA JOKOWI DAN PRABOWO DALAM INSTAGRAM PASCA PEMILU CAPRES DAN CAWAPRES PERIODE 2019-2024

  • Khairul Syaifuddin Universitas Gadjah Mada
  • Shavira Luh Nadila Universitas Muhammadiyah Surakarta
Keywords: dekonstruksi; framing; instagram; poststrukturalisme

Abstract

Pemilu capres dan cawapres periode 2019-2024 di Indonesia telah
selesai diselenggarakan. Hasil dari perebutan kursi presiden dan
wakil presiden telah resmi dimenangkan oleh Jokowi-ma’ruf. Hal
tersebut menandakan bahwa kontestasi dan perebutan kursi presiden
dan wakil presiden telah usai. Meski begitu krisis ketidakpuasan atas
hasil yang diputuskan tersebut terlihat dalam postingan di media
sosial, khususnya instagram. Ketidakpuasan tersebut diperlihatkan
melalui postingan yang dilakukan oleh akun instagram
@obrolanpolitik dan @fuadbakh. Kedua akun tersebut berusaha
menurunkan citra pemimpin, baik pasangan Jokowi-Ma’ruf maupun
Prabowo-Sandi. Penelitian ini berusaha untuk melakukan
dekonstruksi dari konten yang diposting oleh kedua akun instagram
itu. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori
dekonstruksi yang dicetuskan oleh Derrida. Tujuan penelitian ini
adalah untuk melakukan dekonstruksi makna atas postingan yang di
share oleh akun instagram @obrolanpolitik dan @fuadbakh

mengenai citra politik dari paslon Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-
Sandi pasca pemilihan umum capres dan cawapres periode 2019-

2024. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kualitatif dengan paradigma postkonstruktivisme. Dalam melakukan
analisis, peneliti menggunakan metode analisis framing Pan dan
Kosicki dengan memperhatikan struktur teks, perangkat framing, dan
unit yang diamati. Teknik sampling yang digunakan oleh peneliti
adalah purposive sampling dengan memilih 6 postingan yang
diunggah sejak putusan MK dari akun instagram yang menjadi objek
penelitian. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa citra Jokowi
dapat dilihat tidak semata-mata selalu buruk. Salah satunya dengan
keunggulan perolehan suaranya dalam pemilu yang membuatnya
dapat memperoleh kepercayaan memimpin Indonesia selama 2
periode. Begitu juga sebaliknya citra Prabowo meski di framing
buruk namun juga memiliki makna positif. Sehingga dalam strategi
pembacaan teks secara dekonstruksi, tidaklah menghilangkan
konstruksi yang sudah ada, namun memunculkan konstruksi lain
yang tidak diperhatikan.

References

3. Mahendra B. Eksistensi Sosial Remaja
dalam Instagram (Sebuah Perspektif
Komunikasi). J Visi Komun.
2017;16(01):151–60.
4. Rusmulyadi, Hafiar H. Dekonstruksi
Citra Politik Jokowi Dalam Media
Sosial. PRofesi Humas. 2018;3(1):120–
40.
5. Zechfuss M. Jacques Derrida. In: Edkins
J, Williams NV, editors. Teori-teori
Kritis Menantang Pandangan Utama
Studi Politik Internasional. 1st ed.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2013. p.
182–99.
6. Ghofur A. Analisis Dekonstruksi Tokoh
Takeshi Dan Mitsusaburo dalam Novel
Silent Cry Karya Kenzaburo OE
Perspektif Jacques Derrida. OKARA.
2014;I:57–76.
7. Meliono-Budianto VI. Membaca
Poststrukturalisme pada Karya Sastra 1. J
WACANA. 2007;9(1):21–31.
8. Rahadi. Pembingkaian Berita Pada
Media Lokal ( Analisis Framing
Pemberitaan Calon Bupati Malang Pada
Harian Radar Malang Tanggal 1-7
Oktober 2015 ). J ARISTO. 2017;05:49–
81.
9. Pujileksono S. Metode Penelitian
Komunikasi Kualitatif. Malang:
Kelompok Intrans Publishing; 2015. 208
p.
10. Manuaba IBP. Memahami Teori
Konstruksi Sosial. J Masyarakat,
Kebudayaan, dan Polit. 2008;21(3):221–
30.
11. Jailani. Sistem Demokrasi Sudut Hukum
Ketatanegaraan. J Inov.
2015;VIII(1):134–47.
12. Nihaya HM. Demokrasi dan
Problematikanya di Indonesia. Sulesana.
Published
2019-10-21