KARAKTERISASI HASIL PENGELASAN BAWAH AIR MATERIAL BAJA ST 37 DENGAN MEDIA AIR LAUT DAN AIR TAWAR

  • Agus Hariyanto
  • Agus Dwi Anggono
  • Tommy Prasetyawan
Keywords: Pengelasan, Pengelasanbawah air, Baja ST 37

Abstract

Lingkup penggunaan teknik pengelasan modern meliputi perkapalan, konstruksi anjungan minyak lepas pantai , pipa-pipa penyalur gas alam, pressure vessel, dan lain sebagainya. Konstruksi baja anjungan minyak lepas pantai harus bias bertahan lebih dari 25 tahun Selama itu kontruksi anjungan minyak kadang mengalami kejadian yang tidak terduga, yang mengharuskan untuk diperbaiki. Pengelasan dalam air dipilih dari sekian banyak cara perbaikan di karenakan teknik perbaikan gampang dilakukan dan biaya yang murah, maka dari itu teknik perbaikan ini meningkat penggunaanya sehingga banyak penelitian tentang pengelasan dalam air mengenai kualitas sambungan las pengelasan bawah air dan kekuatan sambungan las. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan, kekerasan, dan analisa foto mikro dan makro dari sambungan las baja ST 37 yang di las di dalam air tawar, air laut, dan di darat. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa sambungan las Baja ST 37 yang di las didalam air laut mempunyai tegangan Tarik maksimum paling tinggi yaitu sebesar 323,56 MPa dengan regangan 15,99%, dan paling rendah pengelasan di dalam air tawar sebesar 323,56 MPa dengan regangan  15.06 %. Nilai kekerasan paling tinggi pada pengelasan air tawar 253,4 VHN, paling rendah pada pengelasan darat sebesar 184,3 VHN hal ini di dukung dengan analisa foto mikro pada pengelasan air tawar struktur mikro lebih kecil dari pada pengelasan darat.

References

Anggono, A. D., Widodo, T., Riyadi, B., Triyoko, D., & Hariyanto, A. (2018). Influence of Tool Rotation and Welding Speed on The Friction Stir Welding of AA 1100 and AA 6061-T6, 020054. http://doi.org/10.1063/1.5042910
Chen, X., Kitane, Y., & Itoh, Y. (2010). Mechanical Properties of Fillet Weld Joints by Underwater Wet Welding in Repairing Corrosion-Damaged Offshore Steel Structures, 56(March).
D.Rowe, M., Liu, S., & J., R. T. (2002). The Effect of Ferro-AIIoy Additions and Depth on the Quality of Underwater Wet Welds.
E, Z., & Anggono, A. D. (2017). Analisa Kekuatan Mekanik Dan Struktur Metalografi Pada Metode Brazing Antara Aluminium Dan Besi Dengan Menggunakan Filler Alusol. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Fydrych, D., Rogalski, G., & Łabanowski, J. (2014). Problems of Underwater Welding of Higher-Strength Low Alloy Steels, (5), 187–195.
Guo, N., Xu, C., Du, Y., Wang, M., & Feng, J. (2016). Journal of Materials Processing Technology Effect of boric acid concentration on the arc stability in underwater wet welding. Journal of Materials Processing Tech., 229, 244–252. http://doi.org/10.1016/j.jmatprotec.2015.09.028
Haryadi, G. D. (2007). Aalisa Kerusakan Hasil Pengelasan Bawah Air Pada Lambung Kapal Dengan Bahan Elektroda RB 26 Tersoloti.
Kou, S. (2003). Metallurgy Second Edition Welding Metallurgy. Wiley & Sons.
PI, M., & Anggono, A. D. (2017). Analisis Kekuatan Tarik Dan Struktur Mikro Pada Sambungan T-Joint Dan Butt Joint Pipa Alumunium Dengan Metode Soldering. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sonawan, H., & Suratman, R. (2003). Pengantar untuk memahami proses Pegelasan Logam. Bandung: Alfabeta.
Supriadi. (2009). Pengaruh pengelasan di darat dan dibawah permukaan laut terhadap sifat mekanis baja.
Yasuo, S., & Atsushi, H. (1986). Porosity in Underwater.
Published
2019-01-21