EVALUASI KUALITATIF PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PROFILAKSIS DI INSTALASI BEDAH SENTRAL SECARA RETROSPEKTIF

  • Ainun Muthoharoh
  • Nur D iana
  • St. Rahmatullah
  • W Wirasti
Keywords: Antibiotik, Bedah, Gyssen, Profilaksis, Rasional

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotika profilaksis di Instalasi Bedah Sentral RSUD Kraton berdasarkan kategori metode Gyssen’s ditinjau dari ketepatan indikasi, ketepatan pemilihan berdasarkan efektivitas, toksisitas, harga, spektrum, lama pemberian, dosis, interval, rute dan waktu pemberian antibiotika. Data diperoleh dari penelusuran catatan rekam medik secara retrospektif periode Juli 2017 dengan jumlah sampel sebanyak 100 yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi yang digunakan adalah rekam medik pasien dari IBS yang lengkap dan jelas terbaca periode Juli 2017, pasien laki-laki dan perempuan yang menerima antibiotika profilaksis dengan umur 11-68 tahun. Kriteria eksklusi yang digunakan adalah pasien dengan status meninggal pasca pembedahan dan pindah ke rumah sakit lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien terbanyak berjenis kelamin perempuan (58%), kelompok usia pasien remaja akhir (17-25 tahun) sebanyak 36%, jenis antibiotika yang diterima ceftriaxone (61%). Hasil evaluasi kualitatif penggunaan antibiotika profilaksis yang rasional (kategori 0) sebesar 10% dan yang tidak rasional (kategori I-IV) sebesar 90% dengan rincian kategori V (tidak diindikasikan) sebesar 14,4%, kategori IVA (alternatif lebih efektif) sebesar 81,1%, kategori IVC (alternative lebih murah) sebesar 1,1%, kategori IIIA (pemberian terlalu lama) sebesar 3,3%. Perlu upaya untuk peningkatan kualitas penggunaanya dan mempertahankan kualitas antibiotika profilaksis yang sudah rasional.

References

Alsen, M dan Sihombing, R. (2014). Infeksi Luka Operasi. Jurnal. Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya: Departemen Bedah FK Unsri / RS dr Moh Hoesin Palembang. Hal 229-232.
American Pharmacist Association. (2009). Drug Information Handbook 17th edition. United State: Lexicomp.
Anonim. (2009). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Anonim. (2010a). Antibiotic prophylaxis for surgery guideline. California: Medical Letter Drug Ther Choc Children’s Hospital.
Anonim. (2010b). Clinical Practice Guidelines for Antimicrobial Prophylaxis in Surgery. American Society of Health-System Apoteker. Skotlandia: Intercollegiate Guidelines Network.
Anonim. (2011a). Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik Jakarta Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Anonim. (2011b). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2406/MENKES/PER/XII/2011 Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Antibiotik. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Anonim (2011c). Pedoman Umum Penggunaan Antibiotika. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Anonim. (2014). Antibiotic prophylaxis in surgery. Edinburgh: Scottish Intercollegiate Guidelines Network (SIGN). 104:1–67
Anonim. (2015a). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Di Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Anonim. (2015b). MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Jakarta: PT. Info Master.
Anonim. (2016a). Antibiotic Guidelines 2015-2016 Treatment Recommendations For Adult Inpatients. USA: Jhon Hopkins Medicine.
Anonim. (2016b). Surgical site infection (SSI) event. CDC.
Bushardt RL, Massey EB, Simpson TW, Ariail JC, Simpson KN. (2008). Polypharmacy: misleading but manageable. Journal. Clin Interventions Aging. 3(2):383−9.
Bereket W, Hemalatha K, Getenet B, Wondwossen T, Solomon A, Zeynudin A, et al. (2012). Update on bacterial nosocomial infections. European Review for Medical and Pharmacological Sciences. 16(8):1039–1044.
Bratzler DW, Dellinger EP, Olsen KM, Perl TM, Auwaerter PG, Bolon MK, et al. (2013). Clinical practice guidelines for antimicrobial prophylaxis in surgery. American Journal of Health-System Pharmacy. 70(3):195–283.
BNF 57. (2009). British National Formulary 57. London: British Medical Associated Royal Pharmaceutical Society of Great Britanian.
Bugano, D.D.Z., Camargo, L.F.A., et al (2008). Antibiotic Management of Sepsis: Current Concept. Expert Opin. Pharmacother. 9(16): 2817-2828.
Dellinger, R. Phillip, Mitchell M. Levy, Andrew Rhodes, Djillali Annane, Herwig Gerlach, et al. (2012). Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Severe Sepsis and Septic Shock: 2012. Journal Surviving Sepsis Campaign. Vol 41. Number 2: 580-637.
Ganiswara, S.G. (2007). Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Edisi 5. Hal 585-598.
Goodman & Gilman. (2008). The Pharmacological Basis of Therapeutics. diterjemahkan oleh Hardman, J.G., Limbir, L.E. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC. Volume 2. Edisi 10. Hal 1117-1119.
Gould, I.M. dan Van der Meer, J.W.M. (2005). Antibiotic Policies : Theory and Practice. New York : Kluwer Academic Publisher.
Gyssens I,C., Van der Meers, J.W.M. (2001). Quality of Antimicrobial Drug Prescription in Hospital. CMI. Netherlands: Clinical Microbiology and Infection. Volume 7. Edisi 6. Hal 12-15.
Gyssens, I.C. (2005). Audit for Monitoring the Quality of Antimicrobial Prescription. New York. Hal 197-226.
Hastono, S.P. (2007). Analisis Data Kesehatan. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Jawetz, Melnick, dan Adelberg’s. (2005). Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal 152.
Katzung, Betram. G. (2004). Farmakologi Dasar dan Klinik. Diterjemahkan oleh Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Jakarta: Salemba Medika. Volume 3. Edisi 6. Hal 163.
Katzung, Betram. G. (2010). Farmakologi Dasar dan Klinik. Diterjemahkan oleh Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Jakarta: Salemba Medika. Edisi 10. Hal 149-153.
Lisni, I, Permana, T.A, Sutrisno ,E. (2013). Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Di Salah Satu Rumah Sakit Kota Bandung. Jurnal Farmasi Galenika. Sekolah TInggi Farmasi Bandung.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Keperawatan. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Pamela, D.S. (2011). Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotika Dengan Metode Gyssens Di Ruang Kelas 3 Infeksi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM Secara Prospektif. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.
Phua, J., Ngemg, Wang J., et al (2013). Characteristic and Outcomes of Culture Negative Versus Culture Positive Severe Sepsis. Critical Care 17:R202.
Pratiwi, R.A. (2011). Pengaruh Pemberian Antibiotika Profilaksis Terhadap Kejadian Infeksi Luka Operasi Bersih Pasien Bedah Di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Skripsi. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah.
Siregar, C J P. (2005). Farmasi Klinik Teori dan Penerapan. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC. Hal 25-26.
Souza PM, Neto LL, Kusano LTE, Pereira MG. 92007). Diagnosis and control of polypharmacy in the elderly. Journal. Rev Saude Publica. 41(6):1049−53.
Sugiyono. (2009). Statistika untuk penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Syachroni. (2015). Antibiotic prophylaxis compliance for clean-contaminated wounds in a district hospital in jakarta. Health Science Journal of Indonesia. 6(1):57–62.
Tjay, T.H dan Rahardja,K. (2007). Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Hal 65-74.
Wardoyo EH, Tjoa E, Ocvyanty D, Moehario LH. (2014). Infeksi luka operasi (ILO) di bangsal kebidanan dan kandungan RSUP cipto mangunkusumo (RSCM): laporan serial kasus bulan agustus-oktober 2011. Jurnal. CDK-216. 41(5):332–335.
Zakiya, Z. (2017). Evaluasi Kualitas Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Pasca Bedah Dengan Metode Gyssens di RSUD Bhakti Dharma Husada Periode 2016. Skripsi. Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran Dan Ilmu-Ilmu Kesehatan. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Published
2019-01-21