KARAKTERISTIK AKSEPTOR DAN POLA DISKONTINUITAS KONTRASEPSI MODERN: ANALISIS DATA SDKI 2012

  • Izzatul Arifah
  • Sukamdi Sukamdi
  • Siswanto Agus Wilopo
Keywords: Sumber Pelayanan, Diskontinuitas, Putus Pakai, Kontrasepsi

Abstract

Memahami karakteristik akseptor berdasarkan jenis kontrasepsi dan pola diskontinuitasnya membantu provider meningkatkan kualitas pelayanan guna meningkatkan kontinuitas penggunaan kontrasepsi. Penelitian bertujuan mengkaji karakteristik akseptor dan pola diskontinuitas kontrasepsi modern. Penelitian merupakan studi observasional dengan rancangan kohort-retrospektif. Peneliti menganalisis data longitudinal menggunakan data kalender SDKI 2012. Sampel yaitu 8.656 WUS pernah kawin yang pernah menggunakan kontrasepsi pil, suntik, IUD dan implan. Analisis diskontinuitas berdasarkan prediktornya dilakukan  dengan cox proportional hazard model dengan Confidence Interval (CI) 95% dan tingkat kemaknaan p 0,05. Kelompok responden dengan tingkat ekonomi sangat kaya, tinggal di kota dan tingkat pendidikan tinggi persentase terbesar merupakan akseptor IUD. Berkebalikan dengan akseptor implan yang mayoritas tingkat ekonomi sangat miskin, tinggal di desa, tingkat pendidikan rendah serta pengguna sumber pelayanan KB sektor pemerintah. Pil dan suntik merupakan pilihan mayoritas responden  yang berusia 20-35 tahun, tingkat ekonomi menengah, pendidikan menengah dan pengguna sumber pelayanan KB sektor pemerintah.  Tingkat diskontinuitas lebih tinggi pada metode kontrasepsi jangka pendek seperti suntik dan pil. Risiko diskontinuitas berdasarkan sumber pelayanan paling tinggi terdapat pada akseptor implan sumber pelayanan sektor swasta HR 1,63(1,14-2,36) Terdapat perbedaan yang signifikan karakteristik akseptor masing-masing metode kontrasepsi modern. Perbedaan ini menentukan pendekatan provider dalam menyelenggarakan pelayanan KB berkualitas demi meningkatkan kontinuitas penggunaannya.

References

Ali, M. M. & Cleland, J. (2010) Contraceptive Switching after Method‐related Discontinuation: Levels and Differentials. Studies in family planning, 41(2): 129-133
Anindita, A. I., Nugraheni, D. A., & Febrianti, Y. (2016). Analisis efektivitas biaya kontrasepsi implan dan suntik pada akseptor keluarga berencana (kb) di puskesmas borobudur kabupaten magelang. Prosiding Rakernas dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia 2016 e-ISSN : 2541-0474
Asih, L., & Oesman, H. (2009). Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Jakarta: PUSLITBANG KB Dan Kesehatan Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.
Bernadus, J. D., Madianung, A., & Masi, G. (2013). Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) bagi akseptor KB di Puskesmas Jailolo. e-NERS, 1(1).
Bertrand, J. T., Sullivan, T. M., Knowles, E. A., Zeeshan, M. F., & Shelton, J. D. (2014). Contraceptive method skew and shifts in method mix in low-and middle-income countries. International erspectives on sexual and reproductive health, 40(3), 144-153.
Blanc, A. K., Curtis, S. L., & Croft, T. N. (2002). Monitoring contraceptive continuation: links to fertility outcomes and quality of care. Studies in family planning, 33(2), 127-140.
BPS, BKKBN, Kemenkes RI & ICF International (2013) Survey Demografi Kesehatan Indonesia 2012, Maryland, USA:ICF International.
BPS & Macro, I. (2008) Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007, Caverton, Maryland, USA:BPS dan Macro International.
Chandani, T., OHanlon, B., & Zellner, S. (2006). Unraveling the factors behind the growth of the Indonesian family planning private sector.
Gubhaju, B. (2009). Barriers to sustained use of contraception in Nepal: quality of care, socioeconomic status, and method-related factors. Biodemography and social biology, 55(1), 52-70.
Ina Agustina, D., & Wilopo, S. A. (2012). Kualitas pelayanan kb dan kepuasan klien benarkah keduanya berhubungan secara langsung(Doctoral dissertation tidak diterbitkan, Universitas Gadjah Mada).
Jekyan, S. (2015). Karakteristik Demografi Akseptor Kontrasepsi Suntik Depot Medroxyprogesterone Acetate di Puskesmas Merdeka Palembang Periode Januari–Desember 2012. Majalah Kedokteran Sriwijaya, 47(2).
Jenabi, E., Alizade, S. M. & Bag, R. I. (2006) Continuation rates and reasons for discontinuing TCu380A IUD use in Tabriz, Iran. Contraception 74483– 486.
Moreau, C., Cleland, K. & Trussell, J. (2007) Contraceptive discontinuation attributed to method dissatisfaction in the United States. Contraception, 76(4): 267-272.
PSA & International, I. (2014) Philippines National Demographic and Health Survey 2013, Manila, Philippines, and Rockville, Maryland, USA:PSA and ICF International.
Staveteig, S., Mallick, L. & Winter, R. (2015) Uptake and discontinuation of long-acting reversible contraceptives (LARCs) in low-income countries. DHS Analytical Studies No. 54. Rockville, Maryland, USA: ICF International.
Tsui, A. O., McDonald-Mosley, R., & Burke, A. E. (2010). Family planning and the burden of unintended pregnancies. Epidemiologic reviews, 32(1), 152-174.
Wilopo, S. A. (2010) Dari Pengendalian Pertumbuhan Penduduk Melalui KB ke Kesehatan Reproduksi. In: Tukiran, A. J. P. P. M. K. e. (ed.) Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: PSKK UGM
Published
2019-01-21