Sosialisasi dan Simulasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi Muballigh di Kabupaten Kebumen

  • S Sawiji STIKES Muhammadiyah Gombong
  • Putra Agina Widyaswara Suwaryo STIKES Muhammadiyah Gombong
Keywords: Sosialisasi, Simulasi, BHD, Muballigh

Abstract

Korban henti jantung (cardiac arrest) bisa dialami oleh siapapun,
kapanpun dan dimanapun. Tidak menutup kemungkinan ada korban
henti jantung ketika sedang melakukan aktifitas ibadah, seperti
pengajian, mendengarkan ceramah, atau bahkan di tempat ibadah.
Tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) harus segera dilakukan untuk
mencegah terjadinya kerusakan otak yang lebih parah, mengingat
golden period adalah 6-10 menit. Keterlambatan serta kesalahan
tindakan BHD dapat berakibat fatal bagi korban. Kemampuan
melakukan tindakan BHD harus dimiliki oleh tenaga kesehatan
bahkan oleh semua kalangan termasuk muballigh. Para mubaligh
diharapkan memiliki keterampilan BHD agar mampu memberikan
pertolongan pertama kepada korban henti jantung. Tujuan
pengabdian masyarakat ini adalah memberikan sosialisasi dan
simulasi tindakan BHD pada korban tidak sadar karena henti
jantung. Peserta adalah para muballigh di Kebumen sebanyak 25
orang. Pretest dan posttest diberikan sebagai metode pengukuran
kemampuan peserta sebelum dan setelah kegiatan. Hasil pretest
didapatkan nilai rata-rata 23,28. Materi pada pertemuan pertama
adalah pengenalan korban tidak sadar meliputi cek nafas dan cek
nadi. Materi pada pertemuan kedua adalah teknik pertolongan
korban tidak sadar dengan tidak ada nadi dan tidak ada nafas, yaitu
tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP). Materi pertemuan ketiga
adalah simulasi BHD menggunakan phantom khusus BHD, yaitu
phantom RJP. Semua peserta diberikan waktu untuk mensimulasikan
pertolongan pada korban tidak sadar, meliputi pengenalan korban
tidak sadar yang dilanjutkan dengan memberikan bantuan RJP.
Setelah RJP diberikan, jika korban masih tidak sadar, tidak ada nadi,
dan tidak ada nafas maka tindakan selanjutnya adalah memberikan
terapi kejutan listrik menggunakan automated external
defibrillation.Hasil nilai rata-rata posttest adalah 71,35. Peserta
mengungkapkan bahwa kegiatan sosialisasi dan simulasi BHD
tersebut sangat bermanfaat, karena tidak hanya ilmu agama saja
yang selalu mereka pelajari, tetapi juga ilmu dunia terkait kesehatan
yang nantinya akan berguna bagi sesama.

References

Black, J.M., & Hawks, J.H. (2005).Medical Surgical Nursing: Clinical Management for
Positive Outcomes (7 ed): Elsevier Sounders
Chung, E.K. (2008). Penuntuk praktis penyakit kardiovaskuler (A petrus, Trans). Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Frame, Scott B. (2003).PHTLS: Basic and Advanced Prehospital Trauma Life Support (5thed).
Missouri; Mosby
Hipgabi.(2012). Kumpulan materi pelatihan Emergency Nursing. Jakarta
Junaidi, I. (2011). Pedoman pertolongan pertama yang harus dilakukan saat gawat darurat
medis. Yogyakarta: Penerbit Andi
Lontoh, C. (2013). Pengaruh Pelatihan Teori Bantuan Hidup Dasar terhadap Pengetahuan
Resusitasi Jantung Paru Siswa-siswi SMA Negeri 1 Toili.Skripsi. Manado:
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
Manado
Notoatmodjo, S. (2003).Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Rau, R. (2007). Hubungan pengetahuan perawat dengan kemampuan melakukan bantuan hidup
dasar di IRD RSUP Kandou Manado
Resuscitation Council.(2010, Oktober).Adult Basic Life Support. Diakses pada 6 Maret 2017
http://www.resus.org.uk/pages/bls.pdf
Susilo, R. (2011). Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. Yogyakarta: Nuha Medika
Published
2018-02-21