Profil Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Fisioterapi melalui Self Assessment dan Peer Assessment

  • Rose Ash Sidiqi Marita Akademi Fisioterapi Widya Husada Semarang
  • Zainal Abidin Akademi Fisioterapi Widya Husada Semarang
  • Suci Amanati Akademi Fisioterapi Widya Husada Semarang
Keywords: Profil, berpikir kritis, self assessment, peer assessment

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dengan pendekatan
kuantitatif dan kualitatif yang bertujuan untuk memperoleh profil
kemampuan berpikir kritis mahasiswa Akademi Fisioterapi Widya
Husada Semarang melalui self assessment dan peer assessment. Hal
ini berarti penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengungkap
kemampuan berpikir kritis mahasiswa dengan mengacu pada Ennis,
yaitu memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan
dasar, menyimpulkan, membuat penjelasan lebih lanjut dan
menyusun taktik dan strategi. Penelitian ini menghasilkan profil
kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam menyelesaikan masalah
dan pegambilan keputusan melalui self assessment dan peer
assessment. Penelitian dengan subjek sebanyak 90 mahasiswa. Data
dikumpulkan dengan menggunakan self assessment dan peer
assessment yang dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa rerata kemampuan berpikir kritis
mahasiswa masih tergolong cukup, yaitu kemampuan mahasiswa
dalam memberikan penjelasan sederhana tergolong baik, yaitu
sebesar 78% (self assessment) dan 77,5% (peer assessment);
kemampuan mahasiswa dalam membangun keterampilan dasar
tergolong dalam kriteria baik, yaitu sebesar 77% (self assessment)
dan 74,5% (peer assessment); kemampuan mahasiswa dalam
menyimpulkan tergolong dalam kriteria baik, yaitu sebesar 77% (self
assessment) dan 82,5% (peer assessment); kemampuan mahasiswa
dalam membuat penjelasan lebih lanjut tergolong dalam kriteria
cukup, yaitu sebesar 73% (self assessment) dan 73,5% (peer
assessment); dan Kemampuan mahasiswa dalam menyusun taktik
dan strategi tergolong dalam kriteria cukup, yaitu sebesar 62% (self
assessment) dan 67% (peer assessment). Jadi, dapat disimpulkan
bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam kategori cukup
baik melalui self assessment dengan rerata sebesar 71% maupun
peer assessment dengan rerata sebesar75%. Tentunya hal ini sangat
dipengaruhi proses pembelajaran, efektif tidaknya pembelajaran dan
aktivitas mahasiswa dalam menggali kemampuan berpikir kritis.

References

Kertiasih, N.K. (2010). Pembelajaran Berbasis Komputer pada Mata Kuliah Program Linier
untuk Mengembangkan Berpikir Kritis. JPTK, UNDHIKSHA. Vol. 7 N0.1. p 21-28
Nuroso, H. dan Nuvitasari, D. (2012). Penerapan Model STAD Termodifikasi pada Mata Kuliah
Fisika Lingkungan Ditinjau dari Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa. Jurnal
Penelitian dan Pembelajaran Fisika. Vol. 3 No. 1. P 17-30
Purwanto, M.N. (2009). Prinsip – Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Smith, I. (2011). Assessment & Learning. Alih Bahasa Lestari, P. A. Strategi Penilaian Untuk
Belajar. Jakarta: Erlangga.
Sohibi, M. dan Siswanto J. (2012). Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah dan Inkuiri
Terbimbing terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa. Jurnal Penelitian
dan Pembelajaran Fisika. Vol.3 No. 2. p 135-144
Surapranata, S. (2004). Penilaian Portofolio Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Wulandari, N., Sjarkawi, M. Damris. (2011). Pengaruh Problem Based Learning dan
Kemampuan Berpikir Kritis terhadap Hasil Belajar Mahasiswa. Tekno-Pedagogi, Vol. 1
No.1. p. 14-24
Published
2018-02-21