Analisis Risiko Bencana Longsorlahan di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri

  • Kuswaji Dwi Priyono Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Yunita Surastuti Universitas Muhammadiyah Surakarta
Keywords: Risiko longsorlahan, kerawana, kerentanan, kapasitas masyarakat

Abstract

Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri merupakan daerah
dengan bentuk morfologi berbukit dan bergunung yang mempunyai
risiko bencana longsorlahan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui tingkat risiko bencana longsorlahan dan sebarannya dan
menganalisis faktor paling dominan yang mempengaruhi bencana
longsorlahan di Kecamatan Tirtomoyo. Data yang digunakan adalah
DEM SRTM, citra ALOS, data jenis tanah, data curah hujan, data
jenis batuan, data BPS, dan potensi desa. Penentuan risiko bencana
longsorlahan didasarkan pada tingkat kerawanan, kerentanan
penduduk, dan kapasitas masyarakat. Proses analisis dilakukan
dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) dengan teknik
overlay menggunakan software ArcGis 10.2 terhadap peta-peta
parameter longsorlahan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan
bahwa di Kecamatan Tirtomoyo mempunyai 3 tingkat risiko bencana,
yaitu rendah, sedang, dan tinggi yang disajikan dalam bentuk
informasi spasial risiko bencana longsorlahan. Risiko bencana
rendah (7,8%), risiko sedang (30,2 %), dan risiko tinggi (56%).
Faktor dominan yang mempengaruhi tingkat risiko bencana longsor
lahan di Kecamatan Tirtomoyo adalah jenis tanah.

References

Arsjad, A.B. Suriadi. M. 2012. Informasi Geospasial Daerah Rawan Longsorlahan
sebagai Bahan Masukan dalam Perencanaan Tata Ruang Wilayah. Globe
Volume 14. No. 1 Juni 2012: 37-45.
Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. 2009. Identifikasi dan Karakterisasi
Lahan Rawan longsorlahan dan Rawan Erosi di Dataran Tinggi untuk
Mendukung Keberlanjutan Pengelolaan Sumberdaya Lahan Pertanian. Laporan
Tengah Tahun, DIPA 2009. Bogor: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan
Pertanian.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri. 2015. Tirtomoyo Dalam Angka 2015.
Wonogiri : BPS
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2012. Peraturan Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Bencana Nomor 02 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum
Pengkajian Risiko Bencana. Jakarta :BNPB
Danoedoro, Projo. 1996. Pengantar Penginderaan Jauh Digital. Andi. Yogyakarta
Destriani, N. Dan Pamungkas, Adjie. 2013. Identifikasi Daerah Kawasan Rentan Tanah
Longsorlahan dalam KSN Gunung Merapi di Kabupaten Sleman.Jurnal Teknik
Pomits Vol 2. No. 2. C-134, dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan
Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. ITS
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2005. Manajemen Bencana
Tanah Longsorlahan. Jakarta: DVMBG..
Faizana, Fina, Arief Laila Nugraha, dan Bambang Darmo Yuwono. 2015. Pemetaan
Risiko Bencana Tanah Longsorlahan Kota Semarang. Jurnal Geodesi Undip Vol
4, No. 1.
Guntur, Valentino. 2016. Pengindraan Jauh (Pengertian, dan Komponen-Komponen
Dalam Sistem Penginderaan
Jauh).http://materi4belajar.blogspot.co.id/2016/01/pengindraan-jauh-pengertian-dankomponen.
html. (Diakses tanggal 25 Agustus 2016)
Prahasta E. 2001. Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung:
Informatika Bandung.
Raharjo, Puguh Dwi, dan Sueno Winduhutomo. 2015. Kondisi Sosial-Masyarakat pada
Karakteristik Fisik Lingkungan dalam Mempengaruhi Risiko Longsorlahan di
Karangsambung-Kebumen. Jurnal Manusia dan Lingkungan, Vol. 23, No. 1,
Maret 2016.
Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana.
Published
2018-02-21