Peningkatan Pengetahuan tentang Obat melalui Kegiatan Apoteker Kecil untuk Siswa Sekolah Dasar di Desa Selogiri Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen

  • Tri Cahyani Widiastuti STIKES Muhammadiyah Gombong
  • Naelaz Zukhruf Wakhidatul Kiromah STIKES Muhammadiyah Gombong
  • L Ledianasari STIKES Muhammadiyah Gombong
Keywords: Apoteker, Konsultasi, Informasi dan Edukasi (KIE), kesehatan, obat, siswa Sekolah Dasar

Abstract

Pengetahuan masyarakat mengenai dunia kesehatan, terutama obat
masih sangat terbatas, padahal obat merupakan bahan yang mudah kita
temukan di sekitar kita. Obat harus selalu digunakan secara benar agar
memberikan manfaat klinik yang optimal. Salah satu elemen yang
memiliki keahlian dan dapat menjadi sumber informasi mengenai obat
adalah apoteker atau farmasis. Peran Apoteker dalam bidang kesehatan
yaitu memberikan Konsultasi, Informasi dan Edukasi (KIE),
mengarahkan pasien untuk melakukan pola hidup sehat, dan melakukan
monitoring. Target atau sasaran pendidikan kesehatan dan pelayanan
kesehatan yang ditujukan kepada kelompok atau populasi umur tertentu
sangat menentukan keberhasilan suatu program kesehatan, salah
satunya adalah anak usia sekolah. Pelaksanaan program Apoteker Kecil
pada siswa SD Negeri 4 Selogiri kelas 5 dan 6. SD Negeri 4 Selogiri
merupakan salah satu SD Negeri yang terletak di Dukuh Sipanjang
Desa Selogiri, Kecamatan Karanggaram, Kabupaten Kebumen. Tujuan
dari kegiatan tersebut adalah meningkatkan eksistensi Apoteker dan
tugasnya sehingga pelaksanaan program Apoteker kecil dapat sebagai
perwujudan kader sadar obat sejak dini. Selain itu, Pengetahuan anak
tentang obat semakin baik sehingga anak dapat ikut andil dalam
menyampaikan informasi obat dan kepatuhan penggunaan obat secara
umum kepada keluarga dan lingkungannya sejak dini. Pelaksanaan
kegiatan meliputi, pengenalan apoteker, penyampaian materi mengenai
penggolongan obat, jenis obat, informasi pada kemasan dan brosur
obat, cara penggunaan obat, efek samping obat, cara penyimpanan
obat, obat rusak dan kadaluwarsa serta praktek meracik obat. Hasil dari
kegiatan tersebut adalah adanya perbedaan nilai antara pre test dan
post test, dimana hasil nilai rata-rata post test lebih tinggi daripada pre
test. Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh hasil penyampaian
materi terhadap tingkat pemahaman dan pengetahuan tentang obat dan
apoteker.

References

Anidya, C. M., Taufikurrakhman, A., Akbar, Z., Ningsih, S., Farmasi, P. S., & Indonesia, U. I.
(2005). Upaya Membangkitkan Eksistensi Profesi Apoteker Dan Sistem Interpersonal
Education, 35–40.
Astika, S.L., dalam Charles, S., dan Lia, A., 2003, Farmasi Rumah Sakit : Teori Dan Terapan,
EGC, Jakarta, 177-178.
Barnes, J., Anderson, L.A., Phillipson, J.D. (2005). Herbal medicines. London:Pharmaceutical
Press.
BPOM. (2008). Pengetahuan Tentang Obat: Perlunya Pendekatan dari Perspektif Masyarakat.
Majalah Info POM Vol. 9 No. 4
Depkes RI. (2008). Pedoman Pelatihan Dokter Kecil. Direktorat Bina Kesehatan Anak. Depkes
RI
Kurnia, N., Suswandari, M., Sari, N. K., & Suswandari, M. (2016). Effektivitas Program
Apoteker Kecil ( Apcil ) Terhadap Pengetahuan Tanaman Obat Tradisional Keluarga Di
Sekolah Dasar Negeri 2 Sukoharjo Tahun Ajaran 2015 / 2016. (Kurnia, Suswandari,
Sari, & Suswandari, 2016)
Kompas. 2008. Hampir Empat Ribu Anak SD Terkena Narkoba. Diakses 16 April 2017.
http://nasional.kompas.com/read/2008/02/14/16413551/hampir.empat.ribu.anak.sd.teren
a.narkoba
Kompas. 2011. 95 Siswa SD Terlibat Penggunaan Narkoba. Diakses 16 April 2017.
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/01/20/22541115/95.Siswa.SD.Terlibat.Pengg
unaan.Narkoba
Published
2018-02-21